Oleh Denny sakrieDrakhma adalah nama mata uang resmi yang dipergunakan di Yunani. Oleh Dani Mamesah (drumer) nama mata uang ini lalu menjadi inspirasi untuk nama band yang dibentuknya bersama Dodo Zakaria (piano, keyboards), Gideon Tengker (gitar), Rudy Gagola (bas), Ricky Basuki (vokalis).
Menurut
Dani Mamesah, ia mengambil filosofi mata uang sebagai sesuatu yang
memiliki nilai. Nilai itu kemudian bermetafora sebagai sebuah kelompok
musik yang senantiasa menyajikan musik-musik bernilai terjaga. Kelompok
ini menyertakan konsep musik dengan dukungan instrumen tiup atau brass section.
Drakhma memang didukung tiga orang seksi tiup, yaitu Wawan Tagalos
(trombone, flute) yang juga dikenal sebagai personel New Rollies, lalu
ada Chalik (saksofon) dan Eddy (terompet), serta empat penyanyi latar,
masing-masing Uce Anwar, Eva Diana Sari, Christine Budiardjo, dan Daisy
Maengkom.
Musik eklektik
Konsep
musik Drakhma sebetulnya eklektik. Ada pop, ada jazz, R&B hingga
sedikit blues. Ini mungkin berkaitan dengan latar belakang para
pemusiknya yang cukup beragam. Dodo Zakaria, yang pernah terlibat dalam
berbagai grup rock dan jazz memiliki kontribusi tersendiri. Dodo Zakaria
sempat membentuk Bina Musika Band bersama Erwin Gutawa (bas), Yoyok
(saksofon), dan Cendy Luntungan (drum). Dodo pun sempat bergabung
bersama grup rock Ogle Eyes hingga God Bless.
Rudy
Gagola yang mencabik bass pun lebih banyak berkutat dalam sederet grup
rock seperti The Steel, Brotherhood, bahkan sempat menggantikan kakak
kandungnya, Donny Fattah Gagola, dalam God Bless. Di awal era 1980-an,
Dodo Zakaria dan Rudy Gagolla berkarier sebagai pemusik studio, terutama
mengiringi sederet artis-artis musik yang dikontrak Jackson Records
& Tapes: Mulai dari Iis Soegianto, Ebiet G Ade, Kiki Maria, Vina
Panduwinata, sampai Dian Pramana Poetra dan sederet panjang lagi.
Keduanya selain tampil sebagai player, pun bertugas sebagai penata musik serta pencipta lagu.
Dengan
kemampuan musikal semacam ini, tak heran jika Gideon Tengker, Ricky
Basuki, dan Dani Mamesah memilih mereka sebagai bagian dari formasi
Drakhma yang terbentuk pada tahun 1980.
Album perdana bertajuk Hari Esok
dirilis pada tahun 1981. Penampilan Drakhma memang menyelinapkan
sesuatu yang baru. Mulai dari tatanan musik hingga tema-tema lagu yang
mereka sorongkan. Mereka tak hanya terpukau dengan tema asmara
sebagaimana galibnya perangai para pemusik yang berkubang di jalur pop.
Drakhma mengumandangkan tema cinta Tanah Air seperti "Negeri Surgawi"
maupun "Tuhan Memberkati Indonesia". Tapi, di sisi lain Drakhma menyitir
kehidupan kaum papa, semisal pada lagu "Buruh".
Ricky
Basuki, sang vokalis utama, juga mencuatkan warna vokal yang
berkarakter. Ricky lebih banyak bereksperimen dengan teknik vokal falsetto tanpa harus mengorbankan artikulasi bernyanyi. Gaya falsetto semacam ini dipopulerkan oleh George Duke maupun Phillip Bailey dari kelompok Earth Wind & Fire.
Di album kedua bertajuk Citra Bahagia,
Drakhma banyak melakukan eksplorasi dalam tata musik. Musik Drakhma
terasa kian berat untuk dicerna kuping awam. Di album ini, Drakhma lebih
kental mengadon komposisi bertema jazz, misalnya sebuah komposisi
instrumental bertajuk "Kaki Lima" yang bernuansa Brasil. Alur brass section
berbaur dengan riuhnya tabuhan perkusi yang memihak ke atmosfer
tropikal. Di lagu ini Drakhma didampingi perkusionis tenar asal
Australia, Ron Reeves. Juga, sentuhan biola yang sarat aksentuasi dari
Luluk Purwanto menyuguhkan imbuhan musik yang terasa lebih bernas. Meski
demikian, Drakhma toh masih menyuguhkan lagu-lagu yang berkonotasi pop seperti "Kemilau" dan "Citra Bahagia".
Di sini, penyanyi latar Daisy Maengkom dan Christine Budiarjo mengundurkan diri. Mereka digantikan oleh Rieta Amelia.
Di album ketiga bertajuk Tiada Kusadari, musik Drakhma terdengar mengarah ke ragam pop R&B, tetap dengan teknik vokal falsetto
yang dilengkingkan Ricky Basuki. Di album yang memuat lagu-lagu seperti
"Tiada Kusadari", "Mungkinkah", dan "Sekejap", formasi Drakhma mulai
berubah. Deretan penyanyi latar hanya didukung Uce Anwar (kini istri
drumer Jelly Tobing) dan Rieta Amelia yang kemudian menikah dengan
Gideon Tengker. Barisan pemusik tiup malah diisi oleh pemusik tamu
seperti Idham Noorsaid (terompet) dari The Big Kids, Albert Sumlang
(saksofon) yang pernah mendukung The Mercy's, serta Nano Tirta (flute).
Album
ketiga ini juga merupakan album terakhir dari Drakhma. Para personelnya
mulai bercerai-berai dengan kesibukan masing-masing. Dodo Zakaria aktif
memperkuat God Bless dan sibuk menjadi penata musik serta pencipta
lagu. Ricky Basuki dan Dani Mamesah membentuk kelompok baru dengan nama
Niagara. Rita Amelia bersolo karier. Gideon Tengker membentuk trio rock
TAG bersama Teddy Sujaya (drum) dan Arthur Kaunang (bas) serta trio JAG
bersama Jelly Tobing (drum) dan Arthur Kaunang. Wawan Tagalos kembali
mendukung The Rollies. Sejak itu Drakhma hanya tinggal nama belaka.
Sumber: http://dennysak.multiply.com/journal/item/89/Mengenang-Drakhma?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem



Loading...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar